Budaya adalah Pelebaran Pikiran dan Jiwa
Budaya adalah Pelebaran Pikiran dan Jiwa
Tak hanya sekadar sebuah kecamatan, Ambal adalah bunga rampai bagi laku manusia zamannya, sekaligus paru-paru bagi nafas sejarah Kebumen. MANGGON AMBAL: Sejarah Ditepi Samudera melampaui sekadar tema dan judul, MANGGON AMBAL menjadi metafora yang mengangkat rumah bagi banyak manusia, ruang bernafas, kampung halaman dari tumbuh kembangnya sebuah kehidupan sosial. "Sejarah Ditepi Samudra" berperan sebagai pengingat bahwa identitas Ambal dibentuk oleh perjalanan panjang, ditempa oleh gelombang kehidupan yang tidak statis, yang membentuk wajah Ambal hari ini. MANGGON AMBAL mengajak akal hari ini untuk merenung bahwa masa lalu bukan sekadar kronik, tetapi akulturasi dari banyak energi manusia melalui segala elemen yang dibawanya secara organik maupun kultural.
Tanah Ambal menjadi ruang sebuah masyarakat membangun dinamika sosial-budaya melalui interaksi, distraksi, serta akulturasi yang semua itu membentuk pola sosial. Geografis Ambal yang berada di teras Samudra Hindia sangat membentuk karakter kolektifnya sendiri, semua itu terimplementasi dalam ragam bentuk budaya yang menjadi warisan zaman hingga masih kita rasakan sampai hari ini. Dari tiupan anginnya maupun aroma tanahnya gugusan sejarah dan budaya Ambal memberi inspirasi bagi banyak disiplin seni, dari seni rupa, sastra, kaligrafi juga film. Setiap lapisan-lapisan sejarah dari balik tanah Ambal adalah interaksi emosional manusia dengan kehidupannya.
Melalui pameran MANGGON AMBAL, seluruh karya yang disajikan berperan bukan hanya sebagai representasi artistik, tetapi juga sebagai medium perasaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Perjumpaan berbagai medium seni diharapkan mampu membuka mata kita melihat lebih dalam tentang Ambal sebagai ruang hidup yang kuat bertahan di tepi samudra kehidupan tempat sejarah dipahat waktu, manusia, dan hidup itu sendiri. Pameran ini menjadi renungan untuk memahami Ambal bukan sekadar lokasi geografis, melainkan sebuah laku “manggon”: bertahan, berkembang, dan memeluk sejarah sebuah masyarakat di tepi bibir samudra Hindia.
KURATOR: Akhmad Miftakhul Nisyam
Penulis dan Pencacat Proses: Idez Adhie Aksarra
